Home » » SINDROM ORANG BEKEN DAN MEDIA

SINDROM ORANG BEKEN DAN MEDIA

Written By MUHAMMADIYAH BONE on Sabtu, 27 Agustus 2011 | 07.41



Masih ingat KDI yang menjadi acara popular di sebuah stasius TV Swasta di negeri ini?. Aku mulai menulis artikel ini ketika teringat sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu. Hari itu, Sambil menunggu tukang sayur, aku mencoba mengobrol dengan salah satu tukang becak ( kendaraan roda tiga yang dikayu secara manual) yang biasa mangkal di depan rumah. Dengan bangganya, dia bercerita tentang salah satu anak gadisnya yang beberapa minggu ini telah duduk di bangku SMU. katanya dia ingin menyekolahkan anaknya di salah satu SMU di kota, biar ketika ada pendaftaran KDI, dia bisa mendaftarkan anaknya masuk audisi. Dia pengen anaknya menjadi terkenal seperti si bintang-bintang KDI lainnya yang telah berhasil tampil dipanggung2 di seluruh Indonesia. Ya, biar menjadi “orang beken”. Kasus peredaran video-vidio porno yang dengan sengaja di publikasikan secara otomatis ke sebagian pengguna ponsel, yang bahkan dilakukan oleh si pelaku adegan porno itu sendiri. Dan ketika di incar wartawan, dengan santainya dia mengatakan bahwa hal itu dilakukan hanya untuk menjadi ”orang terkenal”. Kasus yang tak jauh berbeda, masih ingat kasus Maria Eva di entertainment, yang telah menarik perhatian pemirsa televisi, peredaran itu dimaksudkan untuk mendongkrak ketenaran pribadi biar menjadi ” orang beken” yang menjadi pusat perhatian, dan masih banyak lagi hal yang serupa yang tak kan pernah kelihatan ujung pangkal penyelesaiannya. Makin dilakukan maka makin seringdiberitakan di televisi, di uber oleh wartawan dan akhirnya menjadi ”orang terkenal”. tak peduli terkenal karena baiknya tau karena buruknya Setiap orang kini ingin menjadi bintang, khususnya anak-anak remaja. Yang hidupnya dirasuki iklan dan citra media yang diantarkan melalui teknologi informasi : majalah, papan iklan, film, televisi, dan kini internet.
Sindrom Orang Beken telah membutakan hati, menghalalkan segala cara bahkan rela melukai orang-orang disekitarnya. Ternyata sindrom ini bukan hanya di Indonesia, di negara lain seperti Amerika Serikat pun demikian, untuk menarik perhatian media, pembunuhan yang dilakukan anak belia pun mejadi peristiwa yang mengasyikkan.
Dalam suatu jajak pendapat dikalangan siswa SMU di Amerika, 2/3 responden menjawab ingin menjadi ”orang beken” ketika ditanya cita-cita mereka. Anak-anak yang menghabiskan waktu begitu banyak untuk mengunyah gambar dari layar kini ingin tampil sendiri di layar itu.
Dalam masyarakat yang dijejali kekerasan fisik dan mental lewat media elektronik, gambar-gambar yang dulu menyebabkan kita berempati terhadap rasa sakit dan trauma manusia lainnya sekarang justru merangsang melonjaknya adrenalin untuk sesaat, mejadi kebal terhadap kesakitan yang dirasakan orang lain –menyatu dengan kekerasan- tak dapat disangkal lagi merupakan salah satu dari konsekuensi terburuk yang telah ditimbulkan oleh kemajuan teknologi. Ketidakpedulian itu berpindah dari layar, televisi, film, internet dan electronic game ke dalam kehidupan kita sehari-hari melalui teknologi konsumen yang seakan tampak tidak berbahaya.

Bagaimana dengan pembuat media itu sendiri?, munculnya kritikan dan kecaman keras terhadap peredaran buku The Da Vinci Code oleh komunitas Vatikan di Roma ternyata justru meningkatkan daya beli masyarakat sehingga ratingnya menjadi bertambah, film ”Virgin” pun tak ketinggalan mendapat perhatian dari berbagai kelas mayarakat. Kasus ”ngebor” nya Inul Daratista semakin menaikkan rating media, baik media cetak maupun media televisi. semakin mendapat kecaman maka semakin gencar pula media akan mempublikasikannya, karena ratingnya akan naik dan lagi-lagi menjadi terkenal bahkan menjadi media idola pemirsa.
Di Amerika, cara untuk diperhatikan di dunia modern yang ingar-bingar ini ialah menjadi orang yang sangat ekstrem : Madonna, Dennis Rodman, Marlyn Manson dll. Telah melesatkan karir mereka dengan standar kontemporer yang menggemparkan, dengan cara yang sama yang dilakukan stasiun televisi untuk meningkatkan peringkat mereka dengan shockumentaries (dokumentari yang menggemparkan).
Kini, bagaimana dengan konsumeris media?, setelah media menampilkan suguhan-suguhan menunya. Bagaimana dampaknya terhadap pemirsanya? Terhadap pembacanya? Terhadap pelangganya?. Media tak mau peduli, dampak positif negatifnya berita itu tergantung sejauhmana konsumerisnya menanggapi.
Lalu siapakah yang pantas di persalahkan ketika anak sekolah dasar terlibat dalam kasus pembuhan akibat merebaknya tontanan smack down di televisi? Siapakah yang pantas dipersalahkan ketika seorang pelaku pencabulan dimintai komentarnya ditelevisi dengan mengatakan hasrat sexsualnya meningkat ketika habis melihat tontonan film India yang masyhur itu. Lalu siapakah yang pantas dipersalahkan ketika anak-anak pun ibu-ibu tak lagi mengindahkan waktu-waktu ibadah hanya karena tak ingin melewatkan momen sedetikpun pada sinetron kesayangannya?. Orang tua? Pers? objek pemberitaannya? ataukah media itu sendiri? Atau mungkin teknologi?
Bagai buah simalakama, maka yang terjadi adalah saling melempar kesalahan. Opini-opini yang bermunculan ternyata hanya bermain dalam lingkaran yang tak berujung. Apa jadinya jika media selalu menjadi kambing hitam dalam hal pertanggungjawaban terhadap dampak-dampak negatif yang telah ditimbulkan. Ketika kesalahan itu dilemparkan kepada media, maka akan banyak tanggapan kritis yang mengatakan negara tak kan bisa maju tanpa media, masyarakat akan menjadi semakin bodoh dan tertinggal. Lalu? Menyalahkan para pelaku media termasuk seniman2, juga akan menimbulkan kontroversi yang begitu hebatnya. ”ini kan seni, jangan menghalangi kreativitas kami dong, gimana jadinya negara jika para pelaku media selalu dikungkung”, maka yang terakhir adalah konsumeris media yang tidak kritis dalam menilai dan memilih media mana yang layak untuk disajikan untuk dirinya dan untuk keluarganya. Namun ketika tuduhan itu berakhir pada konsumeris media, maka kepada siapakah kesalahan itu diarahkan ketika masyarakat telah terjerembab ke dalam lumpur hidup yang berangsur-angsur akan menyebabkan kehancuran dan kematian?. Jawabnya adalah Pemerintah sang pengambil kebijakan, pemerintahlah yang harus bersikap adil dalam melahirkan setiap aturan-aturan yang dibuat. Pemerintah harus objektif menilai mana yang harus diprioritaskan untuk menjadikan masyarakat yang bermoral dan cerdas.
Ketika peristiwa pembunuhan massal yang terjadi diLittleton AS. Presiden Clinton mengarahkan ucapannya kepada industri hiburan dalam pidato rutinnya di radio,” kepada media dan industri hiburan, saya hanya bisa mengatakan hal ini : Anda tahu bahwa anda memiliki kekuatan besar untuk mendidik dan menghibur anak-anak kita. Ya, memang sudah diatur bahwa harus ada label pada bagian luar setiap vidio, namun yang penting adalah yang ada di dalamnya dan apa yang bisa dilakukannya terhadap benak anak-anak muda kita. Saya meminta ketika Anda membuat video game dan film, bayangkanlah seakan-akan anak-anak Anda sendiri yang menyaksikannya.”
Menjawab itu semua, beberapa bangsa juga telah menarik garis tegas, menolak mempublikasikan tindakan-tindakan ekstrem di televisi maupun media cetak, kebiasaan jurnalistik di Norwegia dan Swedia ialah menyembunyikan nama dan foto para pelaku kekerasan dan menahan diri untuk tidak mengidentifikasi, kecuali apabila diperlukan untuk memenuhi tuntutan akan informasi yang adil dan jujur, hasil dari kebiasaan ini ialah bahwa di kedua negara tersebut tidak ada penjahat yang beken ataupun terjadinya kejahatan yang meniru kejahatan itu.
Ternyata, kekhawatiran itu juga sangat dirasakan oleh pemerintahan yang berasal dari negara industri perfilman terbesar itu. Lalu bagaimana dengan kita?. Seberapa besar kekhawatiran kita terhadap pengaruh negatif media, maka sepantasnyalah para pemerhati media harus turun tangan untuk memberikan pendidikan media sejak dini secara kontinyu kepada masyarakat untuk menjadikan konsumeris yang dewasa, cerdas dan kritis dalam memilih media mana yang layak untuk dikonsumsi.
 Sissela Bok, 1998, menyebutkan bahwa compassion fatigue (keletihan yang membuat kita tak sanggup lagi merasa terharu ataupun berbelas kasihan), Empati dan perasaan sejenis itu membentuk landasan moralitas yang paling mendasar. Kemampuan untuk berempati, untuk merasa bertanggungjawab atas keselamatan orang lain, dan untuk berupaya membantu mereka, dapat tidak tumbuh dan melemah sejak dini, bergantung pada pengalaman sejak dini dan terhadap lingkungannya.
_________________
* Oleh : Yusrianti 

Share this article :

TULISAN TERPOPULER



 
Redaksi : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. MUHAMMADIYAH KABUPATEN BONE - All Rights Reserved